Mursid Mantan Pekerja Migran Buka Usaha Kripik Talas Di Kampung Halamannya

Mursid Mantan Pekerja Migran Buka Usaha Kripik Talas Di Kampung Halamannya
Mursid Wirausaha Kripik Talas 4 Saudara

BENGKALIS - Ini harus didukung tekat seseorang ingin menjadi wirausahawan dan mau memperkerjakan warga sekitar rumahnya.Karena hampir sebagian besar saudara, teman dan tetangga nya bekerja di negeri Jiran (Malaysia)  dan kondisi desa atau kampung lengang atau sepi hanya dihuni orang tua dan anak anak usia sekolah.

Sosok pemuda desa bernama Mursid (35 Th) salah satu pelaku ekonomi di pedesaan yang buka usaha home industri ysng bisa memperkerjakan ibu-ibu rumah tangga (IRT) yang ingin bantu ekonomi keluarganya.

Ia sebelum buka usaha  makanan ringan dari ubi jalar ini adalah mantan pekerja migran setelah itu kembali pulang  mengerjakan kebun  dan sempat kebingungan untuk memulai usaha. Ia bersama saudara mencari peluang usaha di desanya sendiri Bantan Air kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis.

"Saya mencoba usaha atau bisnis apa disaat sekarang terdampak Covid-19 lalu saya mencoba bagaimana mengelola talas atau ubi, tapi biasanya talas itu diolahnya hanya direbus, saya mikir ini dibuat keripik bagus nggak dan terus menerus saya coba " kata Mursid ditemui Indonesiasatu.id di rumahnya. Minggu (04/09).

Usahanya tak langsung berjalan mulus, Mursid harus terus menerus mencoba bereksperimen akhirnya ia ketemu dengan membuat keripik talas yang enak. "Maklum saja, saya baru pertama kali mencoba bisnis keripik talas." ujarnya.Produk keripik talas diberikan cuma-cuma untuk para tetangganya sebagai tes pasar.

Percobaan terus dilakukan hingga akhirnya Mursid bersama saudara memberanikan diri untuk menjual hasil karyanya. Keripik ubi jalar ini belum dimodifikasi apa-apa, rasanya pun hanya satu.

"Was-was pertama nggak ada label. Saya sama saudara dan keluarga berkeliling menjajakan keripik ubi jalar ini rupanya warga yang kami temui menyukainya dan habis terjual ," kata Mursid.

Dari situ mulai terpikir untuk mulai memasarkannya lewat warung-warung kecil di wilayah kecamatan Bantan. Mursid menitipkan dagangannya di warung. Produknya ternyata cukup disambut positif masyarakat Bantan.

Pada saat memasarkan keripik talas Mursid dan saudaranya kebingungan. Apabila produk mereka ingin dikenal dan berkelanjutan maka perlu ada label di produk saran dari beberapa orang yang ia temui.

Pemilihan nama untuk labelnya itu pun tak mudah. Mereka terus berpikir nama apa yang cocok untuk produk mereka. Akhirnya dipilihlah nama "4 Saudara" yang diambil dari  kami adik beradik terang Mursid.

"Akhirnya ya sudah pakai nama keripik 4 Saudara," kata Mursid.

Di tengah usahanya, tepatnya dimulai satu tahun yang lalu, Mursid mendapatkan bahan baku ubi jalar ini dari Sumatera barat.Ia punya ambisi atau keinginan akan menanam ubi jalar di desanya sendiri," Lahan disini banyak bisa dibudidayakan ubi jalar dengan skala besar diharapkan bahan baku tersedia.' harap Mursid.

Produk keripik ubi jalar ini dalam satu Minggu bisa menghabiskan ubi jalar 1 ton." Dari proses pembersihan dan pengupasan sampai menggoreng dan terakhir pengemasan dari 1 ton menghasilkan 300 kg keripik ubi jalar dengan memperkerjakan 13 ibu-ibu warga kami, harga jual Rp. 40.000/kg," papar Mursid untuk limbah  tidak dibuang digunakan jadi pakan ternak.

Dampaknya sangat terasa bagi Mursid dan usahanya ini. Saat ini, produk Keripik 4 Saudara memiiliki pasar di kecamatan Bantan dan kecamatan Bengkalis.

Surat izin usaha dari Pemkab Bengkalis melalui dinas perdagangan dan perindustrian bulan februari lalu dan kami harus ke dinas lingkungan hidup agar tempat usaha kami disurvei sudah didatangi pihak DLH.

" Ini salah satu syarat dari DLH berupa izin lingkungan, petugas DLH sudah datang ke tempat usaha kami," terang Mursid karena surat izin usahanya sudah keluar juga pengurusan sertifikat halal.

Ia berharap produknya ini bisa dipasarkan di toko oleh-oleh di Kota Bengkalis. Harapannya tak muluk-muluk menjalankan usaha. Ia hanya ingin hidup berkecukupan, dan bisa menyekolahkan anak-anaknya kelak dan produknya makin terkenal.

"Saya ingin keripik 4Saudara jadi icon desa Bantan Air," harapnya.

Kegiatan usaha warga desa Bantan Air berupa makanan ringan ini mendapat dukungan dari anggota DPRD Kabupaten Bengkalis Askori," kita siap mensupport usaha rumahan ini terutama izin dan sertifikasi halal diharapkan dinas terkait bisa melakukan survei lokasi dan apa-apa syarat yang kurang harus segera di penuhi," terang Askori termasuk dapil bengkalis dan Bantan.

Dengan adanya dukungan pemerintah pengusaha-pengusaha kecil bisa muncul dan juga menciptakan  lapangan kerja baru dan mereka tidak berfikir menjadi honorer saja.(yulistar)