Misteri, Mistis dan Mitos Pesugihan Tuyul

Misteri, Mistis dan Mitos Pesugihan Tuyul
foto ilustrasi perwujudan tuyul

MISTERI - Mudah, cepat dan praktis, 3 hal tersebut berada di posisi puncak klasemen untuk meraih kesuksesan, menurut impian manusia pada umumnya. Padahal, tidak semudah itu kesuksesan bisa diraih, menurut dunia nyata.

Tapi, fakta berbicara lain, meraih kesuksesan dengan mudah, cepat dan praktis, ternyata bisa dilakukan melewati jalan pintas, dalam artian mirip-mirip jalan tol. Salah satunya melalui jalan alternatif atau pintas yang dianggap efektif dan efisien, yaitu pesugihan tuyul. 

Jalan tersebut masuk kategori zona supranatural, dan tidak bisa dilakukan tanpa syarat maupun ketentuan, layaknya orang beli kartu perdana seluler, harus terlebih dahulu registrasi identitas sesuai data yang tercantum di KTP. 

Namun, untuk memasuki zona supranatural tidak butuh KTP, KK, paspor atau identitas lainnya, cukup melakukan ritual-ritual yang sudah menjadi syarat dan ketentuan. Ritual itu dilakukan dengan cara berbeda-beda menyesuaikan aturan main di tiap-tiap lokasi.

Memang, dari sisi religi, jalan pintas tersebut bertentangan dengan doktrin yang ada di setiap keyakinan, lantaran ada unsur dualisme yang mau tidak mau dipastikan terjadi benturan. Kendati dualisme itu dipastikan terjadi, kenyataannya masih ada manusia yang melakukannya.

Salah satu literasi lain menyebutkan, tuyul merupakan perwujudan dari bayi hasil aborsi atau keguguran kandungan, namun versi ini masih menjadi perdebatan, lantaran bagaimana mungkin makhluk astral mencloning wujud bayi, sementara yang dicloning belum sempurna, tapi sudah mata duitan, dalam artian sudah tahu bahwa uang adalah benda yang bernilai.

Ada yang menyebutkan tuyul baru bisa terlihat oleh pemiliknya selama 3 hari, 7 hari atau 40 hari setelah serah terima, dan serah terima itu dilakukan, usai si pemilik menyepakati perjanjian yang dibuat pelaku supranatural yang menyediakan jasa pertuyulan. Tentunya, perjanjian itu tak butuh tanda tangan, saksi-saksi, meterai, dan dokumentasi foto bukti kesepakatan kedua belah pihak.

Terkait perjanjian yang berlatarbelakang imbal balik, dalam artian harus ada tumbal, hal ini masih menjadi perdebatan. Tumbal itu sendiri bisa dari salah satu pihak keluarga, dalam artian nyawa, atau hanya request darah, bisa darah manusia, bisa binatang. Khusus darah manusia, bisa golongan darah A, B, AB atau O, karena mustahil makhluk astral memiliki laboratorium tes darah untuk menentukan hanya satu golongan darah yang  diminta.

Ada yang menyebut, si pemilik harus menyusui tuyul semasa kontrak kerja, otomatis si pemilik haruslah perempuan, tidak mungkin laki-laki menyusui.

Literasi lain menyebutkan tuyul berkepala botak, bercelana putih, dan bermata merah atau putih, serta tubuhnya kerdil. Khusus suara tuyul, ada yang menyebutkan mirip suara ayam, tapi hal ini masih pro kontra, disebabkan pernyataan itu belum terverifikasi sepenuhnya.

Kinerja tuyul bisa dikatakan melanggar hukum, karena mencuri barang milik orang lain, terutama uang. Khusus untuk uang, ada yang menyebutkan hanya mata uang rupiah saja yang dicuri, tetapi ada yang menyebut bisa jenis mata uang apapun, seperti dollar, poundsterling, lira dan lainnya.

Tuyul menjalankan operasinya atas perintah manusia, dalam artian tuyul tak mungkin mencuri tanpa ada yang memerintahkannya. Saat menjalankan aksinya, tuyul tak pernah pilih-pilih sasaran, asalkan rumah yang dituju teridentifikasi memiliki uang, dimasukan daftar operasi pencuriannya. Saat beroperasi, tuyul tak perlu memperhatikan faktor keamanan lingkungan, seperti poskamling.

Aktifitas Tuyul sama dengan manusia, ada masa istirahatnya, dan di masa itu, tuyul berdiam di dalam botol kaca yang ditutup kain berwarna putih atau hitam. Entah apa yang dilakukan tuyul ketika berada di dalam botol, yang jelas, di dalamnya tidak ada springbed dilengkapi bantal, guling dan selimut. 

Berdasarkan salah satu literasi, entah itu benar atau salah, tuyul digendong pemiliknya dengan cara menyilangkan kedua telapak tangan di belakang punggung si pemilik. Disamping itu, tuyul memiliki kemiripan dengan balita, bisa merengek, menangis, berlarian kesana kemari dan minta makan atau minum.

Pesugihan tuyul bisa dikatakan mengandung unsur tindakan melanggar hukum, yaitu mengambil barang kepunyaan orang lain. Tetapi, bila ada tuduhan secara sepihak atau tanpa bukti otentik apapun kepada seseorang yang dianggap melakukan pesugihan tuyul, bisa masuk kategori pencemaran nama baik atau fitnah.

Selain itu, belum pernah sejarah dunia mencatat tuyul masuk DPO, andaikata ada yang memasukkan, pastilah akan ada kesulitan saat memposting foto dan pengisian identitasnya.

Sebenarnya, pemilik tuyul bisa dikatakan melakukan pelanggaran berat, karena mempekerjakan anak di bawah umur. Namun, karena anak di bawah umur tersebut bukanlah manusia, melainkan makhluk astral, tentunya tidak bisa disebut pelanggaran.

Menurut literasi pertuyulan, ada beberapa benda yang diyakini bisa menghambat tuyul saat menjalankan operasinya, seperti jarum, cermin, kacang, jahe, yuyu atau kelereng.

Bila tuyul berhasil ditangkap, tak ada peradilan apapun yang didakwakan kepada tuyul, jangankan masuk penjara, proses hukum saja tidak ada, dalam artian tuyul bebas dari jeratan pasal atau ayat apapun. 

Proses penangkapan tuyul, tidaklah mudah, kalau maling bisa ditangkap siapa saja, sedangkan tuyul, tak sembarangan orang bisa menangkapnya, dibutuhkan orang yang memiliki kemampuan supranatural.

Untuk mengetahui identitas si pemilik, tuyul tak perlu diinterogasi berbagai pertanyaan, cukup meletakkannya di atas lilin yang menyala. Efeknya, si pemilik bakal kepanasan dan akan menyerahkan diri, sekaligus menunjukkan bahwasannya tuyul itu miliknya.

Pesugihan tuyul hingga saat ini masih serba kontroversial, karena sulit dibuktikan, semua masih berstatus asumsi di atas asumsi. Kendati masih kontroversial, ada baiknya berbagai jenis pesugihan dihindari atau dijauhi, lantaran bertentangan dengan ajaran keyakinan apapun. (dodik)