Menanti Kembali ke Bangku Sekolah, Kembalikan Ekonomi Rakyat

Menanti Kembali ke Bangku Sekolah, Kembalikan Ekonomi Rakyat
foto ilustrasi bangku sekolah

OPINI - Kembalinya pelajar memenuhi bangku sekolah, tidak hanya berdampak bagi pelaku pendidikan, tapi pedagang kecil ikut merasakan. Kok bisa? bisa. Tanyakan langsung ke pedagang kecil manapun dimanapun, pasti jawabannya sama.

Efek covid-19 tidak cuma dirasakan pedagang besar, tapi pedagang kecil juga merasakan, bahkan jauh lebih besar sebab akibatnya. Pedagang kecil harus putar otak secepat mungkin, ketika sekolah-sekolah mengungsikan pelajarnya ke rumah masing-masing.

Pedagang kecil di sekitaran sekolah, tidak sama dengan pedagang di pasar, pertigaan atau perempatan jalan raya, sekitar tempat hiburan dan sekitar pertokoan, mereka memiliki ciri khas dibanding tempat-tempat tersebut. Ciri khas itu ada di waktu penjualan, yang identik masa insoma pelajar.

Pendapatan pedagang kecil di sekolah-sekolah, tidak sama satu sama lain, ada yang besar, ada yang kecil dan ada yang sedang. Kendati berbeda pendapatan, mereka sepakat keberadaan covid-19 yang berimbas macetnya daftar hadir pelajar, juga berimbas macetnya pendapatan harian sebelum pandemi itu muncul.

Berbagai dagangan seperti makanan, minuman, mainan dan aksesoris, menghiasi sekitaran sekolah. Ada 3 subjek market, yaitu pelaku pendidikan, pengantar jemput pelajar dan orang yang melewati sekolah.

Harga semua produk ditawarkan pedagang kecil dengan status terjangkau dan murah meriah, cocok dengan isi kantong pelajar. Memang tidak ada yang istimewa dari produk yang disajikan pedagang kecil, namun situasi dan kondisi membuat produk itu dibutuhkan.

Walau tidak istimewa, nyatanya ada beberapa produk pedagang kecil menjadi memory yang tak terlupakan bagi pelajar, dari produk makanan hingga mainan. Dulu, produk itu sebatas memory tersimpan dalam otak, di zaman sekarang, semua produk itu dilepas ke konten media sosial.

Omset penjualan pedagang kecil di sekolah-sekolah, rata-rata hampir mencapai 80% total sehari. Bahkan ada yang hanya menggantungkan asap dapur mereka di sekitaran bangunan sekolah, tanpa harus berpindah tempat.

Umumnya, pedagang kecil yang berusia lanjut akan tetap bercokol di sekolah, hingga seisi bangunan tidak terlihat satupun manusia. Sedangkan pedagang kecil yang berusia muda hanya berkunjung di sekolah saat insoma, dan usia yang lebih tua akan berpindah tempat, bila dirasa daya beli di sekolah sudah mencapai titik minimal.

Sebagian besar pedagang kecil yang hanya eksis di sekitaran sekolah, beranggapan hari minggu waktunya istirahat, namun ketika covid-19 muncul, sebagian dari mereka tetap menjalankan usahanya, lantaran anjloknya pendapatan harian.

Hasil penjualan pedagang kecil di sekitaran sekolah, bisa dikatakan cukup besar dan relatif bisa diandalkan. Selain itu, daya beli yang hampir permanen, dalam artian bisa diprediksi hasilnya dalam hitungan harian, mingguan atau bulanan. Yang pasti, teori matematika pedagang kecil, sesuai dengan praktek, walaupun teori itu berbeda satu sama lain.

Kabar bakal kembalinya pelajar duduk di bangku sekolah, tentunya membuat pedagang kecil senang. Mereka sudah pasti berharap pendapatan harian bakal kembali normal. Otomatis, perputaran roda ekonomi kembali berputar dengan kecepatan normal di masa new normal. (dodik)