Dodi: Di Tengah Pandemi Covid-19, Gakkum KLHK Tindak Pelaku Kejahatan Lingkungan

Dodi: Di Tengah Pandemi Covid-19, Gakkum KLHK Tindak Pelaku Kejahatan Lingkungan

Polewali Mandar-Di tengah Pandemi Covid-19, Penyidik Gakkum KLHK telah menyerahkan Tersangka dan Barang Bukti (Tahap II) kasus pengangkutan kayu illegal kepada pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Barat di Kejaksaan Negeri (Kejari) Polewali Mandar. Selanjutnya, kasus tersebut akan dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Polewali Mandar untuk proses persidangan. Rabu (03/6/2020).

“Ditengah Pandemi Covid-19 ini, kami tetap melaksanakan arahan pemerintah mengenai physical distancing, dan kami tetap bekerja memproses semua kasus kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan. Kami juga mengapresiasi kerja keras dari rekan-rekan Penyidik Gakkum KLHK beserta dengan pihak Ditreskrimsus Polda Sulbar, Kejati Sulbar, dan Kejari Polman sehingga kasus ini dapat terselesaikan dengan baik.” Kata Dodi Kurniawan, S.Pt, MH, Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sulawesi, di Makassar (3/6/2020).

Dodi Kurniawan kembali menegaskan, kami tidak berhenti untuk melakukan penindakan pelaku kejahatan lingkungan seperti ini, walaupun ditengah Pandemi Covid-19. 

Kepala Seksi Wilayah II Palu, Subagio, menambahkan, kami berharap dengan dilakukannya tahap II ini maka kasus ini dapat segera dilimpahkan ke persidangan. "Rencananya, Tersangka H akan ditahan di Polres Polman. Mengingat saat ini Rutan sedang tidak menerima tahanan baru,” imbuh Subagyo.

Penyidik Gakkum KLHK mempersangkakan H (44 tahun) dalam kasus “Mengangkut kayu hasil hutan tanpa disertai dokumen SKSHH yang sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku dan/atau menerima, membeli, menjual, menerima tukar, menerima titipan, dan/atau memiliki hasil hutan yang diketahui berasal dari pembalakan liar di Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat.

Tersangka H (44 tahun) dijerat Pasal 83 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf e dan/atau Pasal 88 ayat (1) huruf a Jo Pasal 16 atau Pasal 87 ayat (1) huruf a Jo Pasal 12 huruf k UU No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dengan hukuman penjara paling lama 15 tahun dan denda maksimal Rp. 15 Milyar. Pengungkapan Kasus ini berawal dari kegiatan Operasi oleh Tim Operasi Peredaran Hasil Hutan Seksi Wilayah II Palu di daerah Jalan Poros Mapili Tutar Kecamatan Luyo, Kab. Polman Provinsi Sulawesi Barat.

Dalam operasi tersebut ditemukan barang bukti berupa, 1 (satu) kendaraan truck DC 8451 CU sedang mengangkut kayu bantalan berbagai jenis dan ukuran sebanyak 154 (seratus lima puluh empat) batang atau kurang lebih setara dengan 11,8108 (sebelas koma delapan satu nol delapan) meter kubik dengan menggunakan dokumen Nota Angkutan Hasil Hutan Kayu Budidaya yang berasal dari Hutan Hak. (subhan).