Apa Yang Disoal Dibalik Jahatnya Virus Corona

Apa Yang Disoal Dibalik Jahatnya Virus Corona
Udin Komarudin Journalist.id(indonesisatu.id)

KESEHATAN- Sudah tahu kan bahaya virus Corona atau tak sadar hingga tidak patuhi protokol kesehatan, apalagi disoal kenapa bisa terinfeksi dan salah menyalahi.

Di laman post akun Facebook milik ST beberapa hari lalu sempat Cuit beberapa nitizen di Facebook  dengan jumlah like 137 dan 60 komentar pemilik akun Nitizen Facebook yang berisikan," Kalimat buat Gaduh ", Kata Cuit komentar Nitizen di Facebook. 

Sebenarnya, tidak ada persoalan dalam Cuit post status tersebut tak seharusnya di persoalkan, seperti terjadi di acara" Lawyer Club", hehe.. seolah saya benar, kemudian keluarlah Cuit post berikutnya oleh pemilik akun Facebook sama ST yang isinya permohonan maaf" SADAR " dirinya telah buat gaduh post status, sehingga ada yang tak menyukainya. Kalau berpikiran bijak dan relevan yang perlu di perdebatkan," Bagaimana secara sadar bergotong royong perangi virus corona, bukan mencari suatu salah dan benar apalagi di besar-besarin".

Cara pemikiran inilah yang mesti dihilangkan karena akan merusak pemikiran orang lain yang pada umumnya peniru. Contohnya,' seorang Ibu dan Ayah tidak memberikan contoh pada anaknya tidak patuhi protokol kesehatan dan Sang anak mengeluh hak jajannya berkurang atau tidak ada sama sekali "wajar", namanya juga anak-anak. 

Ini yang penting persoalan sesungguhnya," VIRUS JAHAT CORONA,". Virus jahat ini telah menyerang jutaan penduduk Bumi, dan menewaskan ratusan ribu nyawa, termasuk di Indonesia. Di Mesuji virus corona mengundang banyak tanya, khususnya beberapa hari kebelakang. 

Alasannya, kasus positif corona meningkat kemarin dan sekarang informasi sembuh cuma isolasi mandiri ," Luarbiasa sakti". Kembali pandang kebelakang bermula Mesuji status zona hijau seperti yang di katakan melalui juru bicara gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Kabupaten," Yanuar Fitriani " beberapa bulan yang lalu, sekarang statusnya zona kuning Gubrak jumlah pasien positif Covid-19 meningkat," HEBOH ", dunia Mesuji dibuatnya hanya hitungan beberapa minggu di tetapkannya New Normal (Kehidupan baru).

Mulai physical distanscing (pembatasan fisik) Pembatasan sosial, informal jaga jarak, penyemprotan disinfektan, pakai masker serangkaian tindakan intervensi nonfarmasi yang dimaksudkan untuk mencegah penyebaran penyakit menular.
   
Lantas, kira-kira apa penyebab di balik kenaikan kurva corona di Mesuji? 

Lebih Agresif, Ketika terkonfirmasi Rabu(16/09) yang hanya lewat sehari Di katakan Kepala Dinas Kesehatan Mesuji, Yanuar Fitrian dalam press rilisnya, pasien 2 orang tersebut berinisial JP (25), berjenis kelamin laki-laki dan L (34), berjenis kelamin perempuan total menjadi 10 orang, dari yang sebelumnya berjumlah 6 orang. Pekanlalu, Mesuji masih zona hijau, padahal untuk wilayahnya di kelilingi wilayah zona merah.

Ternyata, rekor itu tak muncul dengan sendirinya, tetapi berkaitan dengan pemeriksaan laboratorium secara masif dan agresif untuk menemukan kasus baru. “Dua orang tersebut yakni HC, pasien  09, jenis kelamin laki-laki, usia 38 tahun beralamat di Ogan Komring Ilir (OKI) namun berdomisili di Kecamatan Tanjungraya,” kata Yanuar. “Sedangkan pasien 10 berjenis kelamin perempuan, usia  31 tahun,  berinisial IF, alamat domisili juga di  Tanjungraya ”

Menurut Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Yanuar Fitriani , kini pemerintah telah melakukan tracking yang lebih agresif, keduanya terkonfirmasi positif setelah dilakukan tracking. Sebenarnya, kondisi ini tak hanya terjadi di Mesuji, tetapi juga beberapa wilayah lainnya. 

Imbas Gelombang New Normal? 

Sesuai yang terjadi saat ini, meningkatnya pasien covid-19 di Mesuji yang disampaikan di preless info pemerintah sesuai hasil data yang telah dianalisis terkonfirmasi meningkat pasien Covid-19 waktu yang lewat . 

Terlepas dari kebijakan pemerintah mengenai New Normal, tetapi kecenderungan masyarakat terlena dengan hal ini, tak patuhi protokol kesehatan. Lalu, benarkah kurangnya kesadaran New Normal menjadi biang keladi dari meningkatnya kasus corona di Mesuji. Sayangnya, belum dapat dipastikan secara akurat. 

Akan tetapi, beberapa tokoh masyarakat mengatakan kurangnya kesadaran akan New Normal hingga masyarakat tak patuhi protokol kesehatan bisa menyebabkan penyebaran virus corona menjadi tak terkendali.

Abai dan ‘Terserah’

Masih ingat dengan topik “Indonesia Terserah” yang sempat diperbincangkan pada pertengah Mei silam? “Indonesia Terserah” semoga topik ini memang hilang dalam pikiran.

Padahal, banyak ahli sudah mengatakan, cara memutus rantai penyebaran virus corona dimulai dari di sendiri. Pandangan ini salah satunya datang dari profesor infectious disease modelling, Graham Medley, di London School of Hygiene and Tropical Medicine. 
“Saya pikir cara paling baik (mencegah penularan virus corona) adalah dengan membayangkan bahwa Anda mengidap virus tersebut, dan mengubah perilaku sehingga tak menularkannya pada orang lain”

Dengan menghindari menggunakan kendaraan umum, tempat-tempat umum, kantor, atau bahkan berkumpul bersama teman-teman, menggunakan masker, menerapkan tanggung jawab sosial, artinya kita telah mengurangi kemungkinan untuk “tertular” dan “menularkan”. 

Jika banyak dari kita yang melakukan tindakan ini, virusnya memang masih menyebar, tapi kecepatannya lebih lambat. Sayangnya, perilaku masa bodoh atau abai seperti di ataslah yang bisa menyebabkan rantai penularan virus corona sulit diputus. 

Di balik pandemi Covid-19, ada satu kesalahan yang dilakukan virus jahat ini. Bila virus seperti SARS-CoV-2 mampu berpikir, mereka juga seharusnya belajar. Jika tujuan mereka mereplikasi diri, harusnya mereka tak membunuh kita. Sebab begitu virus menjadi pagebluk, semua kecerdasan manusia akan dikerahkan untuk menghancurkan mereka. Setuju? 

Kita tentu tahu harus berbuat apa, karena manusia telah ikut peraturan ini sejak kehidupan di Bumi dimulai. Dan, virus belum pernah mengalahkan manusia.