Tantangan Rio sebagai Rookie Formula 1

Jakarta – Aksi pertama Rio Haryanto di atas mobil F1-nya tak berjalan terlalu mulus. Dia memang butuh waktu untuk beradaptasi dan memfokuskan dirinya hanya pada urusan balapan. Rio sempat melebar di tes pertama, dan menabrak pagar pembatas di sesi berikutnya kemarin. Catatan waktunya juga berada di urutan terbawah di antara para pebalap yang tampil di Sirkuit Catalunya, Barcelona, Spanyol, itu.

“Sebagai seorang rookie, apa yang dialami Rio sangat wajar. Memang tidak mudah untuk pindah kelas, apalagi karakter mobil dan pebalap memang beda-beda,” ucap mantan pebalap nasional Ananda Mikola, Jumat (26/2/2016).

Ia mencontohkan, Michael Schumacher awalnya sangat kencang di kelas Formula 3, tapi tidak begitu kencang saat tampil di F3000. Sebab, bodi mobil F3 lebih ramping, down force lebih tinggi. Karakter Schumi cocok di F3, yang kala itu relatif lebih mirip dengan F1. Itu sebabnya orang Jerman tersebut begitu digjaya di Formula 1 – dan punya mobil yang sangat bagus.

“Setahu saya ya, dulu itu F1 basic-nya ada di F3. Walaupun belakangan, dengan perkembangan teknologi, GP2 kini semakin mirip F1,” tutur Nanda yang dulu pernah berkarier di kelas F3000, alias satu kelas di bawah F1.

 

Berdasarkan pengalaman dirinya semasa membalap di level tinggi, Nanda menyebut ada empat hal yang perlu diatasi seorang pebalap. Jika dia bisa mengatasi pressure (tekanan) tersebut, kemudahan akan lebih bisa diperoleh.

“Pertama, tim tentu menaruh ekspektasi tertentu pada masing-masing pebalapnya. Manor mungkin lebih berharap masukan-masukan lebih banyak dari Rio, karena dia tiga tahun main di GP2. Sedangkan rekan setimnya (Pascal Wehrlein) bukan dari GP2 tapi Formula 3, dan dua musim terakhir di DTM, yang notabene bukan mobil balap single seater seperti mobil Formula.

“Kedua, pressure besar seorang pebalap sebenarnya adalah bagaimana dia bisa tampil lebih baik daripada rekan setimnya. Saya yakin, lawan pertama yang harus dikalahkan Marc Marquez, misalnya, bukanlah Valentino Rossi atau Jorge Lorenzo, melainkan Dani Pedrosa. Kalau dia lebih baik daripada tandemnya, itu sudah sebuah keberhasilan tersendiri, paling tidak buat tim.”

Tekanan lain, lanjut Nanda, adalah sorotan dan penilaian media massa (pers), dan apalagi untuk seorang Rio, adalah ekspektasi masyarakat Indonesia, yang seringkali hanya ingin melihat hasil yang instan, namun mengabaikan proses-proses menuju ke sana.

“Jadi, saya berharap Rio fokus saja pada performanya, pada proses adaptasi yang perlu segera dia lakukan. Masyarakat Indonesia mudah-mudahan bisa terus memberi dukungan terbaik buat dia. Begitu juga urusan sponsor. Jangan sampai Rio malah kepikiran juga,” ujar Nanda.

Nanda sendiri tetap merasa yakin Rio memiliki potensi besar untuk mencapai target-targetnya di musim perdana dia di dunia Formula 1.

“Sekali lagi, Rio harus fokus ke urusan balapan dan mengatasi setiap tekanan yang ada. Kalau, katakanlah, setiap catatan waktu Rio, dari sesi latihan sampai race, selalu lebih baik daripada Pascal, maka dia akan punya peluang besar untuk dipertahankan atau bahkan direkrut tim lain yang lebih besar.

“Dalam dunia balapan, lawan terbesar seorang pebalap adalah bagaimana dia mencapai limit-nya,” simpul Nanda.

Written by izzat

http://indonesiasatu.id